Ini bukan cerita tentangku, tapi tentang seorang gadis dengan banyak tawa, tentang seorang gadis yang jika kita melihatnya hanya ada ungkapan pujian yang sempurna. Wajah cantik dan periangnya seperti menjadi daya tarik yang ia punya. Bukan hanya itu, ia bahkan piawai dalam berbagai hal, mengerjakan berbagai tugas, pendengar setiap keluh, pendekap setiap jiwa yang rapuh, bahkan urusan memasak dan hal lainnya ia mampu kerjakan. Kebaikan yang ia punya menjadikan ia sosok yang bisa diandalkan, bagiku ia seperti sosok peri yang siap datang ketika dibutuhkan. Bahkan, sekalipun aku tidak pernah mendengar penolakan ketika ia dimintai tentang banyak hal.
Ia, gadis itu sahabatku.
Kupanggil ia sahabat sebagai tebusan rasa bersalahku, rasa bersalah ketika membiarkan ia sendiri melalui banyak badai.
Satu tahun yang lalu, gadis periang itu hilang, katanya saat itu ia diterpa banyak badai, ketika berucap, ia tersenyum, senyum pilu dengan tatapan mata sedikit sendu, seolah berkata, tidak, peri itu tidak ada lagi, peri yang selalu kalian cari tidak akan kalian temukan lagi.
“Tugas akhir itu gampang, bahkan terlalu mudah untuk dikerjakan” dia berucap dan menatapku lama, aku mematung dengan membalas tatap.
“Tapi saat itu aku kehilangan semuanya”
“Tidak, aku tidak takut kehilangan semuanya, seperti yang kamu lihat, aku bisa melakukan apapun bahkan tanpa bantuan sekalipun” ia menarik nafasnya panjang, seolah memberi isyarat jika ceritanya tidak berhenti pada bagian itu.
“Saat itu aku kehilangan satu-satunya yang bisa aku andalkan, aku kehilangan kepercayaan diri, lebih tepatnya aku kehilangan diri sendiri” ia kembali tersenyum, entah apa maksud dari senyum itu, tugasku hanya menjadi seorang pendengar.
“Aku kira aku memiliki banyak teman, ternyata aku sendiri saat itu. Sempat bertanya, dimana kerumunan orang yang mengepungku selama ini”
“Mau mendengar banyak cerita?” ia bertanya, sepertinya mukaku terlihat enggan hingga ia bertanya meyakinkan.
Seolah tersihir dengan tatapannya, aku hanya mematung, menunggu banyak cerita yang ingin ia tumpahkan.
“Aku hidup dalam kukungan pujian, dan pujian paling memuakkan adalah pujian cantik yang mereka lontarkan” ia terkekeh sendiri, seolah mengingat kenangan pahit yang ia simpan sedemikian rapi.
“Tau apa bagian memuakkannya? Mereka tidak tau ketakutanku tentang gambar yang dicuri dan dijadikan bahan fantasi manusia bodoh, mereka tidak tau bagaimana ketakutanku ketika beberapa direct message masuk dan mengirimkan bagian poto yang seharusnya itu tidak menjadi pusat perhatian” badannya bergetar, satu persatu tangis yang keluar ia usap dengan kasar.
“Mereka tidak tau bagaimana rasanya setiap pergi ke kamar mandi harus melihat sekitar dengan bayang-bayang rasa takut? mereka mana tau rasanya menangis tersungkur ketika melihat handphone dengan record menyala, mereka mana tau” dia terkikik lagi.
“Mereka juga tidak tau bagaimana mengerikannya menaiki kendaraan umum dengan ketakutan karena seseorang dengan tangan bejatnya” tangis itu kini berubah menjadi nada dengan penuh amarah.
Komentar