Langsung ke konten utama

Sahabat dalam cermin (CERPEN)

Ini bukan cerita tentangku, tapi tentang seorang gadis dengan banyak tawa, tentang seorang gadis yang jika kita melihatnya hanya ada ungkapan pujian yang sempurna. Wajah cantik dan periangnya seperti menjadi daya tarik yang ia punya. Bukan hanya itu, ia bahkan piawai dalam berbagai hal, mengerjakan berbagai tugas, pendengar setiap keluh, pendekap setiap jiwa yang rapuh, bahkan urusan memasak dan hal lainnya ia mampu kerjakan. Kebaikan yang ia punya menjadikan ia sosok yang bisa diandalkan, bagiku ia seperti sosok peri yang siap datang ketika dibutuhkan. Bahkan, sekalipun aku tidak pernah mendengar penolakan ketika ia dimintai tentang banyak hal.

Ia, gadis itu sahabatku.

Kupanggil ia sahabat sebagai tebusan rasa bersalahku, rasa bersalah ketika membiarkan ia sendiri melalui banyak badai.

Satu tahun yang lalu, gadis periang itu hilang, katanya saat itu ia diterpa banyak badai, ketika berucap, ia tersenyum, senyum pilu dengan tatapan mata sedikit sendu, seolah berkata, tidak, peri itu tidak ada lagi, peri yang selalu kalian cari tidak akan kalian temukan lagi.


“Tugas akhir itu gampang, bahkan terlalu mudah untuk dikerjakan” dia berucap dan menatapku lama, aku mematung dengan membalas tatap.


“Tapi saat itu aku kehilangan semuanya”

“Tidak, aku tidak takut kehilangan semuanya, seperti yang kamu lihat, aku bisa melakukan apapun bahkan tanpa bantuan sekalipun” ia menarik nafasnya panjang, seolah memberi isyarat jika ceritanya tidak berhenti pada bagian itu.

“Saat itu aku kehilangan satu-satunya yang bisa aku andalkan, aku kehilangan kepercayaan diri, lebih tepatnya aku kehilangan diri sendiri” ia kembali tersenyum, entah apa maksud dari senyum itu, tugasku hanya menjadi seorang pendengar.

“Aku kira aku memiliki banyak teman, ternyata aku sendiri saat itu. Sempat bertanya, dimana kerumunan orang yang mengepungku selama ini” 


“Mau mendengar banyak cerita?” ia bertanya, sepertinya mukaku terlihat enggan hingga ia bertanya meyakinkan.


Seolah tersihir dengan tatapannya, aku hanya mematung, menunggu banyak cerita yang ingin ia tumpahkan.


“Aku hidup dalam kukungan pujian, dan pujian paling memuakkan adalah pujian cantik yang mereka lontarkan” ia terkekeh sendiri, seolah mengingat kenangan pahit yang ia simpan sedemikian rapi.


“Tau apa bagian memuakkannya? Mereka tidak tau ketakutanku tentang gambar yang dicuri dan dijadikan bahan fantasi manusia bodoh, mereka tidak tau bagaimana ketakutanku ketika beberapa direct message masuk dan mengirimkan bagian poto yang seharusnya itu tidak menjadi pusat perhatian” badannya bergetar, satu persatu tangis yang keluar ia usap dengan kasar.


“Mereka tidak tau bagaimana rasanya setiap pergi ke kamar mandi harus melihat sekitar dengan bayang-bayang rasa takut? mereka mana tau rasanya menangis tersungkur ketika melihat handphone dengan record menyala, mereka mana tau” dia terkikik lagi.


“Mereka juga tidak tau bagaimana mengerikannya menaiki kendaraan umum dengan ketakutan karena seseorang dengan tangan bejatnya” tangis itu kini berubah menjadi nada dengan penuh amarah.

“Benar, aku berharap seekor kupu-kupu yang melintas dihadapanku berubah menjadi peri kecil bersayap dan membawaku terbang ke dunianya” terdengar tawa parau diantara suaranya.

“Sekarang, sedikit demi sedikit aku bisa menerima, menerima jika hidup memang tentang sendiri, aku jadi tau alasan kenapa Tuhan memberikan dua kaki” ada lekukan senyum disana, benarkah itu senyuman sebuah penerimaan? atau hanya senyuman penutup luka.

Aku menatapnya satu kali lagi, mata itu masih melihatkan mata kosong kehilangan kepercayaan diri,  raga itu masih raga ketakutan yang selalu ia dekap, senyum itu belum sepenuhnya pulih. Hanya melihatnya seperti itu saja membuat mataku memerah. Bagaimana bisa? bagaimana bisa  ia tertatih sendiri selama ini. 
Tidak, sepertinya benar, sepertinya benar jika ia mulai menerima dunianya. Kemarin aku melihatnya kembali membaca buku ditemani satu gelas teh, dua hari yang lalu, aku melihat tirai jendela kamarnya terbuka setelah sekian lama tertutup, bahkan tiga hari yang lalu aku melihatnya menyapa seorang tukang sapu jalan, kebiasaan yang sudah satu tahun tidak pernah aku lihat.

“Kamu ingin melihatku mengenakan toga itu?”
“Kamu ingin melihatku mengenakan selempang gelar S.psi seperti yang sering aku ceritakan?” ia memberi pertanyaan tanpa jeda, tapi sepertinya benar jika ia mulai terlihat baik-baik saja.

“Besok temani aku belajar melangkah lagi, ada janji dengan dosen pembimbing, meski satu tahun tanpa kabar, dia tetap menerimaku dengan baik”

“Meski kukatakan kedua kakiku harus melangkah sendiri, tapi, aku butuh kamu, butuh kamu untuk rahasia-rahasia perjalan panjang berikutnya” ia menutup kata dengan satu senyuman lagi, kali ini yang aku lihat adalah senyum penuh harap.

“Maaf”
Satu kata yang aku ucap dengan mata yang bersimbah.
Maaf membiarkanmu sendiri.
Maaf tidak mendekapmu di malam sunyi penuh isak pilu itu.
Maaf membirkanmu melalui malam kelam dalam ketakutan.
Maaf, maaf.
Air mata itu semakin memancur deras, aku menarik kedua tangan, menyilangkannya kearah pundak, mendekap erat pundak ringkih yang gemetar ketakutan.
Saat kepalaku tanpa sengaja menatap lekat kearah cermin, aku melihat gadis itu, gadis yang ingin kujadikan sahabat selamanya, gadis yang ingin aku dekap setiap tangisnya, gadis yang ingin aku lihat senyum di setiap perjalanan hidupnya.
Pantulan itu semakin lama semakin jelas, memperlihatkan mata penuh harap.
Gadis itu mulai tersenyum.
Tatapannya mulai berubah, ada binar disana, kemudian ada nada lirih berucap, satu kata terimakasih.

Besok aku ingin melihat gadis itu tumbuh menjadi cantik dan penuh tawa, lagi.

Selesai.

Terkadang hidup memang penuh dengan berjuta kejutan, dan  diantara kejutan-kejutan yang ada, hal yang perlu dilakukan adalah “menerima” feni arish

…………………………..

Cerita ini saya persembahkan sebagai rasa terimakasih untuk banyak wanita yang berani menumpahkan luka dengan bercerita.


Komentar